Di proyek konstruksi, material sering jadi porsi biaya terbesar. Ironisnya, material juga yang paling susah dilacak. Bata datang, semen dipakai, pasir menumpuk, lalu di akhir proyek muncul pertanyaan klasik: kok habisnya lebih banyak dari rencana?
Setiap proyek punya gudang sendiri
Begitu sebuah proyek ditandai sebagai proyek konstruksi, Odoo 20 Construction otomatis membuat analytic account, gudang site, lokasi pemakaian proyek, dan tipe operasi pengeluaran material. Tim tidak perlu setting manual setiap kali proyek baru dimulai.
Barang dari PO masuk ke gudang site dan tercatat sebagai stok site. Statusnya belum menjadi biaya, karena belum dipasang.
Tidak ada material keluar tanpa WBS
Material baru menjadi biaya saat dikeluarkan dari gudang site ke lokasi pemakaian. Di titik inilah aturan paling penting berlaku: pengeluaran wajib ber-WBS. Tanpa kode WBS, dokumen tidak bisa divalidasi.
Aturan ini kelihatan sepele, tapi efeknya besar. Setiap sak semen sekarang punya alamat: dipakai di pekerjaan apa, kapan, dan senilai berapa.
Nilainya mengikuti harga beli rata-rata (AVCO), bukan harga standar di master produk. Kalau bata dibeli Rp880 sementara harga di AHS Rp900, laporan memakai Rp880. Satuannya juga fleksibel: semen boleh dalam kg di AHS dan sak di PO.
Pemakaian vs standar AHS
Karena AHS sudah menyimpan koefisien per m², sistem bisa menghitung berapa material yang seharusnya terpakai untuk progress yang sudah dicapai. Laporan Pemakaian Material menampilkan rencana, dipesan, diterima, dipakai, standar, dan selisihnya.
Contoh di akhir periode 1, setelah 240 m² dinding terpasang:
| Material | Dipakai | Standar | Selisih |
|---|---|---|---|
| Bata merah | 18.000 bh | 16.800 bh | +7,1% |
| Semen PC | 58 sak | 55,2 sak | +5,1% |
| Pasir pasang | 11 m³ | 10,32 m³ | +6,6% |
Angka +7% ini belum tentu waste. Bisa jadi material sudah ada di area kerja tapi belum terpasang. Di contoh kami, selisih bata turun ke +0,5% di periode berikutnya karena material itu akhirnya terpasang. Bedanya, sekarang Anda tahu dan bisa langsung bertanya ke site, bukan menebak.
Permintaan material dengan rem
Untuk proyek yang butuh kontrol lebih ketat, ada Material Request. Tim site mengajukan permintaan, PM yang approve, lalu sistem membuat RFQ yang sudah membawa WBS.
Setiap baris menampilkan sisa kebutuhan menurut RAP. Kalau permintaan melebihi sisa rencana, kolom alasan wajib diisi, misalnya “pengganti bata pecah”. Tanpa alasan, permintaan tidak bisa diajukan.
Kalau materialnya sudah ada di gudang site, pilih pemenuhan dari stok site. Saat di-approve, sistem langsung membuat dokumen pengeluaran material ke WBS.
Hasilnya
Dengan alur ini, diskusi soal material berubah dari “kayaknya boros” menjadi “bata di WBS 3.2.1 lebih 7,1%, tolong cek area kerja”. Jauh lebih cepat ditindaklanjuti, dan jauh lebih sulit diperdebatkan.